Skip to main content

WISATA GUNUNG PINANG DEKATKAN ANDA DENGAN ALAM


Oleh : Desi Purnamasari

Foto Oleh : M. Arief Maulana/Gunung Pinang

       Gunung pinang merupakan tempat wisata yang baru dikembangkan akhir-akhir ini. Tetapi gunung pinang tak kalah menariknya dengan gunung lainnya, meski gunung pinang terletak berdekatan dengan perkotaan serang, tapi cukup ramai wisatawan lokal berdatangan.

           Lokasi gunung pinang ini berada di tengah tengah kota cilegon dan kota serang. Akses jalan menuju gunung pinang juga sangat mudah karena berada di jalan raya serang - cilegon. Bukit ini memang hanya memiliki ketinggian 300 mdpl dan luas sekitar 220 hektar saja. Namun viewnya cukup bagus, kita bisa melihat hamparan laut yang luas serta menyaksikan kota cilegon dan serang dari ketinggian. Suasananya juga cukup sejuk karena dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun. Suara kicauan burung juga akan menyambut para wisatawan yang datang.

              Untuk masuk ke area gunung pinang entah itu untuk jogging, gowes, atau berfoto foto setiap pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10 ribu. Selain itu juga dikenakan biaya parkir yakni sepeda motor Rp 5 ribu dan mobil Rp 8 ribu. 
Kini gunung pinang serang kerap menjadi perbincangan di media sosial. Sebab belum lama ini dibangun berbagai fasilitas. Mulai dari dekorasi payung warna warni yang digantung diantara pepohonan dan lampion warna warni. Ada juga aneka spot selfie seperti sayap kupu kupu, gardu pandang, deck love, dan ayunan. Bagi yang hobi gowes, bukit pinang adalah tempat yang pas untuk menyalurkan hobimu. Disana tersedia trek downhill, bahkan pernah digunakan untuk event International Downhill Championship 2009

Gimana penasarankan .. yuk langsung Explore Serang














             





Comments

Popular posts from this blog

Kampung Adat Cisungsang Lebak Banten

Oleh : Migi Syahrizal Kampung Wisata Adat Cisungsang terletak persis di tepi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masih asri. Tak jauh dari Cisungsang, terdapat perbatasan Banten dan Jawa Barat dengan sungai yang menjadi garis pemisah Kabupaten Lebak dan jawa barat . Dari ibu kota Rangkasbitung, jarak kampung adat ini sekitar 150 kilometer, sedangkan dari Jakarta sekitar 280 kilometer. Rumah-rumah di kampung Wisata Adat Cisungsang terlihat rapih dengan tata letak kampung yang dinamis. Seluruh rumah warga adat tampak menghitam dengan atap ijuk dari pohon aren. Rumah-rumah kecil berdiri di antara gawir-gawir (tebing) yang tak terlalu tinggi, mengapit satu rumah besar dan dua balai pertemuan di bawahnya yang menjadi pusat Kampung Wisata Adat Cisungsang. Kata Cisungsang juga dibentuk dari dua suku kata, ‘ci’ dan ‘sungsang’. Secara harfiah kata ‘ci’ adalah bentuk singkat dari cai dalam bahasa Sunda, yang berarti air. Sed...

Sejarah Banten Girang

Oleh : Jeri Indraloka Banten Girang pada awalnya adalah pusat kerajaan sunda jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan di Jawa Barat yang merupakan awal Kerajaan Banten sebelum mendapat kebesaran nama pada saat itu (Kerajaan Sunda Wahanten). Pendiri sekaligus penguasa Kerajaan Wahanten ialah Prabu Jaya Bupati yang disebut juga Prabu Saka Domas. Bermaksud memulihkan kerajaan-kerjaan yang telah hancur dimasa silam, Prabu Jaya Bupati mendirikan Kerajaan Wahanten di Banten Girang pada tahun 932 M sampai tahun 1016 M. Kerajaan Wahanten pada saat itu menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain di Jawa. Erat hubungan kerjasamanya dengan Raja Prabu Darma Wangsa, dan dilanjutkan sampai Raja Erlanggga (990 M - 1016 M).           Suatu ketika, rakyat Kerajaan Sunda Wahanten sering mendapat gangguan keamanan yang mengancam keselamatan Raja dan rakyatnya. Ancaman itu datang dari Kerajaan Sri Wijaya yang dipimpin oleh Prabu Bala Putra Dewa ...

Asal usul adanya suku baduy di Banten

Oleh : Sisti Lustiani Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Ada dua kategori masyarakat di Baduy, Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah baduy dalam. Sedangkan Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan suku Baduy. Tidak seperti baduy luar, warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam. Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon,...