Oleh : Nida Nurhidayah
![]() |
| Euis Lidya Wati (Volunteer Gerakan Banten Mengajar 2017) |
Kehidupan enak bisa dirasakan oleh banyak orang – orang yang mempunyai penghasilan di atas rata – rata bahkan mampu membeli apapun keinginan sekunder maupun tersiernya, kebutuhan yang tercukupi dan lingkungan pendukungnya. Kehidupan inilah yang sangat di dambakan oleh sebagian orang dipelosok negeri ini tepatnya di kampung Rorah Badak - Kecamatan Cibitung - Kabupaten Pandeglang - Provinsi Banten, menjadi anak pesisir yang menjadikan mata pencaharian sebagai nelayan tidak banyak membantu perekonomian rumah tangga, banyak warga pergi merantau ke luar kota dan luar negeri hanya untuk mencari pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhannya.
Sebagian
warga kampung Rorah Badak tidak memiliki MCK (Mandi Cuci Kakus) mereka hanya
mengandalkan sungai, sawah/kebun sebagai tempat pembungan kotoran yang selalu
setiap harinya dikeluarkan, ketidak mampuan perekonomian inilah yang menjadi
kendala utama untuk membangun MCK, mereka harus mengeluarkan uang sekitar 5 – 7
juta hanya untuk membangun 1 wc.
Kita
bisa menemukan wc di sekolah akan tetapi tidak mudah menemukan air yang harus
dilakukan menimba air terlebih dahulu di sungai. Bayangkan saja setiap hari
tidak hanya 1 atau 2 keluarga saja yang membuang kotoran, kebiasan mereka
membuang kotoran di sungai, sawah/kebun, semak – semak, atau tempat lainya hal
itu yang perlu di hawatirkan karena dampaknya lingkungan tercemar (pencemaran
air dan tanah)
Kurangnya
pengetahuan/ kesadaran pentingnya dari fungsi MCK sebagai sarana yang menunjang
kehidupan sosial di warga sekitar bisa mempengaruhi kesehatan yang dapat memicu
berbagai penyakit, selain mencemari lingkungan, BAB sembarang juga berdampak
langsung kemasyarakat terutama kesehatan anak – anak.
“Angka
kematian Diare diantara balita itu masih menjadi proporsi yang besar, sekitar
23%. Itu karena diare, penyakit lain seperti pneumonia atau radang paru – paru
juga karena air tercemar, tidak cuci tangan dengan bersih. Itu karena kuman ,
infeksi kecaciangan, usus terpapar terus oleh bakteri kuman dan tidak masuknya
zat gizi terhadap tubuh anak sehingga timbul
stunting (pendek). Tubuh anak tidak jadi proporsional” Dr Budi Setiawan,
Spesialis Kesehatan Badan PBB untuk urusan anak - anak UNICEF Indonesia.
Untuk
saat ini belum ada tindakan untuk mengubah perilaku agar lebih peduli terhadap
kebersilahan lingkungan.

Comments
Post a Comment