Oleh : Monica Noer Aqmarina
Pengobatan dilakukan secara berkala oleh petugas kesehatan masyarakat (Puskesmas). Sebab, penyebab penyakit Frambusia itu akibat buruknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti berpakaian sampai berminggu-minggu tidak diganti, mandi tidak menggunakan sabun, dan bahkan warga Baduy ketika tidur tidak beralas tikar.
Perilaku seperti itu, merupakan budaya masyarakat Baduy sehingga petugas medis kesulitan untuk mengubah pola hidup bersih dan sehat. Jumlah penderita Frambusia tercatat 23 warga Baduy dan mereka dilakukan pengobatan oleh petugas medis setempat agar sembuh dan tidak menularkan pada warga lainnya. Meskipun penyakit Frambusia itu tidak mematikan, karena menyerang pada bagian kulit saja, seperti luka koreng, tetapi bisa menurunkan produktivitas.
Guna mencegah penyakit frambusia (korengan), ribuan warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, akan mendapat pengobatan massal.
Penularan frambusia akibat kondisi lingkungan kotor serta buruknya prilaku hidup sehat dan bersih (PHBS). Apalagi, tempat tidur orang Badui kurang begitu bersih juga seharian sering tidak ganti pakaian. Oleh karena itu, guna mencegah penularan itu pihaknya akan menggelar pengobatan massal dengan memberikan suntikan Penisilin dan Kapsul Oral.
Namun demikian, petugas tetap melakukan pendekatan budaya, sehingga lambat laun mereka mau diobati penyakit langka itu.
![]() |
| Suku Baduy Dalam |
Sebanyak 23 warga Baduy Dalam
tersebar Kampung Cikawartana, Cikeusik dan Cibeo, Kabupaten Lebak, Provinsi
Banten, terjangkit Frambusia atau sejenis penyakit kulit yang menyerang sekujur
tubuh. Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten
Lebak dr Firman Rahmatullah mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan segera
melakukan pengobatan penyakit Frambusia agar tidak menularkan kepada warga
lainnya.
Selama ini, pemerintah daerah cukup serius untuk
mengobati penyakit langka yang menimpa warga Baduy itu.
Pengobatan dilakukan secara berkala oleh petugas kesehatan masyarakat (Puskesmas). Sebab, penyebab penyakit Frambusia itu akibat buruknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti berpakaian sampai berminggu-minggu tidak diganti, mandi tidak menggunakan sabun, dan bahkan warga Baduy ketika tidur tidak beralas tikar.
Perilaku seperti itu, merupakan budaya masyarakat Baduy sehingga petugas medis kesulitan untuk mengubah pola hidup bersih dan sehat. Jumlah penderita Frambusia tercatat 23 warga Baduy dan mereka dilakukan pengobatan oleh petugas medis setempat agar sembuh dan tidak menularkan pada warga lainnya. Meskipun penyakit Frambusia itu tidak mematikan, karena menyerang pada bagian kulit saja, seperti luka koreng, tetapi bisa menurunkan produktivitas.
Guna mencegah penyakit frambusia (korengan), ribuan warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, akan mendapat pengobatan massal.
Penularan frambusia akibat kondisi lingkungan kotor serta buruknya prilaku hidup sehat dan bersih (PHBS). Apalagi, tempat tidur orang Badui kurang begitu bersih juga seharian sering tidak ganti pakaian. Oleh karena itu, guna mencegah penularan itu pihaknya akan menggelar pengobatan massal dengan memberikan suntikan Penisilin dan Kapsul Oral.
Penyakit
frambusia mulai ditemukan pada tahun 1974 lalu di kawasan Badui sebanyak 100
orang positif terserang. Sekujur tubuh tampak korengan pada bagian kulit si
penderita. Saat itu, lanjut dia, pihaknya tidak bisa melakukan pengobatan
karena budaya mereka menolak kehadiran petugas medis.
Namun demikian, petugas tetap melakukan pendekatan budaya, sehingga lambat laun mereka mau diobati penyakit langka itu.

Comments
Post a Comment